“Walaupun tuan-tuan halangi dengan
bom dan dinamit dan meriam yang berasal dari Amerika dan Inggris kita akan
tetap merdeka “ Soekarno.
Indonesia merupakan negeri jajahan
yang memerah darah dan taruh nyawa dalam memperjuangkannya. Karena pada saat
itu negeri ini masih dalam genggaman penjajah, keadaan rakyat waktu itu masih
dalam penindasan bagsa asing, yang setiap saat mendapat tekanan lantaran itu
kemiskinan dan penderitaan ada dimana-mana, karena ketidakadilan bangsa
penjajah.
Tidak adanya keadilan dan kebebasan
itu, mereka mengorbankan nyawa untuk mengambil hak-hak yang telah dirampas,
mereka tidak ingin anak cucunya hidup dalam tekanan dan penindasan bangsa
asing.
17 Agustus 1945 adalah hadiah
istimewa dari Tuhan untuk bangsa ini. Berkat perjuangan dan jihad, sukses
merebut negerinya sendiri tanpa mengenal lelah dan nyerah, sehingga Indonesia
dengan bebas dan leluasa mengibarkan bendera merah putih setiap saat, terlebih
di bulan agustus bendera menjadi pelangi di sekujur tubuh Indonesia memberikan warna
dan bahagia tersendiri untuk kami penduduk negri.
Namun dewasa ini ada PR cukup serius
yang harus kita tuntaskan melihat realita dan fakta sudah tidak sejalan dan
hampir beda arah dengan cita-cita pendiri bangsa.
77 Th kita merdeka, namun
ketimpangan kerap kali hadir melahirkan penindasan dan kemiskinan. Hal ini
terjadi lantaran keadilan hanya sebuah setruktur dan kata yang tidak memberikan
mana dan manfaat pada rakyat. Bahkan sering kali ‘adil’ hanya singgah pada
mereka yang beruang dan memiliki jabatan. Semua ini terjadi karena kurangnya
penegak hukum, “kemanusian yang adil dan beradap” hanya untaian kata yang
selalu terlintas di bibir namun makna yang tersirat didalamnya tak mampu
dilahirkan menjadi pegangan hidup.
Perlu kita tegaskan bahwa yang
banyak menyengsarakan rakyat adalah para pejabat, para pejabat korup yang hobi
mencuri uang negara dan akhirnya rakyatlah yang kena imbas dari perbuatan keji
ini, anehnya sering kali orang-orang seperti itu tidak diberi ganjaran yang
setimpal serupa perbuatannya, hal ini bukan saja menghianati amanah yang
diberikan rakyat, tetapi menghianati cita-cita pendiri bagsa. Dahulu
mereka berjuang mati-matian mengusir penjajah demi menghilangkan ketimpangan
dan kemiskinan yang ada pada saat itu.
Berbicara hukum dan adil itu mutlak di tangan pemangku kebijakan (pemimpin), maka hemat saya, perlu revitalisasi mindset tentang bagaimana melihat dan memilih
seorang pemimpin.
Baru-baru ini pemimpin yang ideal
direduksi sebagai sosok yang berpenampilan sederhana bar baju polos dan tidak
memakai baju yang mewah secara mutif dan merek, dan yang terbaru lagi pemimpin
ideal adalah ia yang berambut putih dan memiliki kerutan di wajah. Mirisnya
statement ini disampaikan oleh kepala negara yang seharusnya memberi edukasi
positif berwawasan keilmuan, bukan sesuatu yang konyol dan tidak berfaidah,
seakan butuh pemimpin yang serius untuk mengurus negri yang sudah lucu.
Islam memberikan pelajaran yang
sagat berharga bagi ummatnya, ia memberikan pesan bagaimana menentukan pemimpin
yang ideal seperti 4 sifat wajib bagi rasul: siddiq, amanah, tablig, dan fatanah. Seorang pemimpin wajib
memiliki empat sifat ini, ia harus jujur dengan segala kebijakan yang akan ia
pegang, perkataan, perbuatan, dan integritas ini sagat penting mengingat bagsa
ini sudah cukup banyak orang pintar tapi kerisis orang jujur. Kedua amanah, ia
harus dipercaya karena ia menjadi publik
figur yang akan menjadi contoh bagi banyak orang, ia akan dicontoh dari
segala ucapan maupun tindakan.
Ketiga tablig, yang bermakna
menyampaikan. Seorang pemimpin harus cakap dalam berbicara mampu berargumen dan
membangun gagasan yang baik di depan rakyatnya, memberikan energi positif dari
kata dan bahasa yang ia ungkapkan. Sehingga banyak orang termotivasi darinya.
Terakhir fatanah. Yang bermakna pintar atau pandai, seorang pemimpin harus
cerdas dan bijaksana untuk memahami segala problem
yang hadir dalam masyarakat sekaligus dalam upaya mencari solusi dari
setiap masalah yang ia temukan. Antara, etikabilitas, integritas,
intelektualitas, dan elektabilitas harus menjelma dalam sosok seorang pemimpin,
dari situlah ia menjadi ciri-ciri pemimpin yang ideal.
Mewujudkan cita-cita pendiri bangsa
memang tidak mudah, namun setidaknya kita berusaha dengan cara memilih orang
yang tepat dalam memangku kebijakan, dengan memilih pemimpin berkualitas secara
keilmuan dan wawasan bersifat siddiq, amanah, tablig, fatanah, dari itu semua keadilan dan kesejahtraan akan
hadir ditengah bagsa ini, sejalan dengan apa yang dicitakan pendiri bagsa.
DIRGAHAYU INDONESIA 78

Komentar
Posting Komentar