Langsung ke konten utama

Tradisi Koloman Malam Jumat Pada Masyarakat Madura

 

 
Oleh: Khoir

    Suku Madura memang terkenal sebagai etnis yang taat beragama dan teguh dalam menjaga keyakinan, begitupun denga tradisi keagamannya, banyak aktivitas dan norma-norma sosial yang didasarkan pada nilai-nilai agama, warisan kultur yang diyakini sebagai peninggalan leluhur menumbuhkan makna tersendiri bagi setiap individu dan dengan cara itu mereka mengatur segala aspek kehidupannya. Islam bagi orang Madura  menjadi jati diri suku bangsa Madura, atau sebaliknya suku Madura memiliki jati diri islam, papar Drs Abdul Latif Bustami Msi (39), dipandang dari sudut sejarah Madura mulai menonjol peranannya sekitar abad ke-13 ketika Aria Wiraraja diangkat sebagai Adipati Sumenep oleh Raja Kertagena dari Singasari, sejak itulah Madura mulai dikenal bahkan dalam sejarah kuno anak ketiga dari Ari Wiraraja menjadi penasehat di kerajaan Majapahit.

Dari sinilah suku Madura diyakini sebagai masyarakat yang taat beragama, dan selalu setia dalam memepertahankan tradisi keagamaan yang mereka yakini mampu mendatangkan kebaikan dan keselamatan dunia dan akhirat. Sebagai bentuk perwujudan dari ketaantannya itu melahirkan beberapa kebiasaan yang hingga sekarang menjadi sebuah tradisi yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat, seperti halnya koloman malem juma’at, koloman dalam istilah lain yaitu pengajian malam juma’at yang merupakan tradisi orang Madura khusunya masyarakat desa dan merupakan angenda mingguan bagi masyarakat setempat.

Tradisi Koloman malem juma’at  ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Madura, di Kabupaten Pamekasan misalnya, setiap malam jumat mereka berkumpul di rumah masyarakat sesuai dengan lutri (undian) yang disepakati di minggu sebelumnya. Dalam pelaksanaannya tidak ada regulasi yang mengikat, harus menyiapkan hidangan yang mewah atau berpakaian bagus dan lain sebagainya. Acara kompolan ini dilaksanakan secara suka rela dengan menyediakan hidangan seadanya sesuai kemampuan finansial tuan rumah. 

Koloman malam juma’at bisanya dilaksanakan di masjid, mushollah ataupun langgar, namun lumrahnya diselenggarakan di langgar, karena memang langgar bagi masyarakat Madura sebagai tempat bersosialisasi dan berintraksi secara penuh dengan keluarga, tetangga maupun dengan tamu yang datang dari jauh. Dalam pelaksanaannya tidak sekedar berkumpul semata, melainkan ada beberapa ritual yang sudah biasa disisipkan dalam acara ini, seperti pembacaan yasin, tahlil dan doa bersama.

     Kegiatan koloman malam juma’at ini, hanya boleh diikuti kaum Adam saja karena memang dalam hal ini hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki, oleh karena itu masyarakat setempat menyebutnya Musliminan (perkumpulan bagi kaum laki-laki). Sementara koloman untuk perempuan dikenal dengan Muslimatan, dan waktu pemyelenggaraannya pun juga berbeda dengan kaum Adam. Namun yang jelas semua rangkaian acara ini lebih bernuansa religius karena momen ini juga salah satu cara mereka untuk medekatkan diri kepada tuhan. Penulis amati terdapat beberapa nilai yang patut dipertahankan bahkan ditiru oleh daerah-daerah yang lain:

Koloman Sebagai Aktifitas Religius          

Dalam pandagan masyarakat Madura koloman bukanlah acara main-main, menurut mereka acara ini sangat positif dan sakral, sehingga tidak heran jika tiap minggunya puluhan orang selalu meramaikan acara ini. Selain itu, Ini adalah bentuk ketaatan mereka terhadap suatu peribadatan, apa lagi acara ini juga dihadiri oleh beberapa Ustadz dan Kyia dalam wilayah tersebut, terkadang juga sosok Kyai sebagai promotor berbagai persoalan apa lagi dalam ranah agama. Kerena Kyai bagi masyarakat Madura adalah seorang figur bahkan panutan yang setiap perkataannya adalah kalam ilahi.

            Selain itu, Kyai memimpin sebaian rangkaian acara seperti pembacaan tahlil terlebih dalam pembacaan doa karena masyarakat meganggap Kyai adalah orang yang suci dan lebih dekat dengan Allah, sehingga menurut masyarakat doa-doa yang dipanjatkan oleh orang yang suci akan lebih cepat diijabah oleh sang pencipta. Terjadinya proses internalisasi nilai-nilai keagamaan ini lah yang menjadikan  hubungan mereka akan semangkin baik, hubungan pada tuhan hablum minallah dan hubungan sesama tetangga hablum minannas.

            Doa-doa yang dipanjatkan juga diperuntukkan kepada para guru, sesepuh maupun keluarga yang telah wafat dengan harapan arwah yang didoakan mendapatkan keselamatan di akhirat dan yang mendoakan mendapat berkah. Selain adanya beberapa nilai diatas, ada hal yang sangat fundamental terjadi disini yaitu inkulturasi budaya yang awalnya hanyalah sebuah perkumpulan, kini menjadi suatu momen yang bernilai religius dan berdampak lebih baik dari sebelumnya. Hal ini cocok dengan ungkapan dalam ilmu sosilogi agama bahwa untuk menjadi manusia masa kini tidak harus meninggalkan warisan nenek moyang yang lebih mengutamakan hal-hal baru. 

Koloman Sebagai Nilai Ekonomi

Selain bernilai religius, ternyata koloman merupakan tradisi yang bernilai ekonomi dengan adanya arisan di dalamnya. Arisan merupakan kegiatan mengumpulkan uang dari seluruh anggota yang hadir dan tergabung dalam tradisi koloman ini dan hasilnya akan diberiakn kepada tuan rumah sebagai penyelenggara begitupun seterusnya, dalam arisan ini ada target minimal penyetoran yaitu senilai Rp.20.000 sedangkat target maksimalnya tidak ada batasan dengan tujuan tidak memberatkan masyarakat yang ekonimi menengah kebawah dan ekonomi menengah ke atas bisa menyetor dengan nominal yang lebih tinggi.

            Hasil yang didapatkan dari arisan biasanya di gunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan pertanian, bahkan ada juga tetangga yang jauh-jauh hari meminta untuk diberikan pinjaman hasil arisan tersebut. Selain diundi atau diacak untuk mendapatkan arisan ini, kadang pula kalau ada kebutuhan yang sangat mendesak dari salah satu anggota koloman dengan segaja mangajukan diri untuk mendapatkan giliran diminggu selanjutnya hal itu bisa diterima sesuai kebutuhan dan kesepakatan anggota kolom.

Koloman Sebagai Penguat Solidaritas

Perjumpaan yang terjadi setiap minggu atara warga desa setempat mejadikan masyarakat lebih akrab antara satu sama lain. Dengan adanya koloman ini masyarakat lebih leluasa melunagkan waktu saat berintarksi satu sama lain, saat acara selesai biasanya masyarakat ngobrol, bercerita bahkan ngopi hingga tengah malam menyampaikan keluh kesahnya dalam kehidupan rumah tangga begitu pun dengan persoalan pertaniannya disitulah akan menemukan saran bahkan solusi dari setiap problem yang sedang dihadapinya.

            Terjadinya intarksi dan komunikasi yang kuat ini lah yang melahirkan solidaritas yang kuat pula antara masyarakat setempat, maka tak heran jika gotong royong masih kuat mengakar di dalam kehidupan masyarakat desa. Dari sudut sosiologis solidaritas masyarakat desa tergolong pada solidaritas mikanik memiliki kesadaran kolektif dan memiliki tanggung jawab bersama dan tidak ada pembagian kerja di dalamnya, sehingga mereka bisa hidup rukun saling menjaga antar sesama.

Kesimpulan

Koloman malam juma’at ini tidak hanya perkumpulan semata akan tetapi memiliki fungsi lain yaitu sebagai momen silaturahmi, nilai ekonomi, ketaatan beribadah, penguat solidaritas dan bermusyawarah saja akan tetapi sebagai wadah menimba ilmu bagi para warga yang mengikuti koloman ini. Kegiatan ini bersifat kultural dan radisional yang mempu dipertahankan sehingga mewujudkan inkulturasi agama didalamnya, semua kegiatan ini secara suka rela tidak ada kepenitaan apalagi seorang ketua yang mengatur layaknya dalam sebuah organisasi akan tetapi berjalan beriringan dengan kesemangatan dan keikhlasan para warga dan berlangsung secara turun temurun hingga sekarang.

REFERENSI

Atika, Meri. “Penguatan Peran Langgar Sebagai Medium Keluarga dalam Upaya Pembentukan Pendidikan Karakter Anak di Madura”, Personifikasi November 2019.  Vol. 10 No. 02

Notinghan Elizabeth K. “Agama dan Masyarakat”Suatu Pengantar Sosiologi agama,PT. Raja Grafindo Persada :Jakarta 1994

Susanto, Edi. KARSA. “Revitalisasi Nilai Luhur Tradisi Lokal Madura”, Oktober 2007, Vol. XII No.  02

 

 

 

 

 

 

Komentar