Langsung ke konten utama

HARGA TOLERANSI DALAM ISLAM DAN KRISTEN

 

                                                                     


                          Oleh : Khoir   

COSTLY TOLERANCE

TANTANGAN BARU DIALOG MUSLIM-KRISTEN DI INDONESIA DAN BELANDA

Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Islam dan Kristen

Sebuah pembacaan ALquran pasca dokumen ACW

Resume Dari Buku Prof Amin Abdullah

Disini memberikan pemahaman, bagaimana kita membaca Alquran dan mampu memahami isi yang ada dalam ALquran serta mampu menyesuaikan dengan meningkatnya ketegangan antara umat islam dan Kristen. Setelah diterbitkannya sebuah dokumen A Common Word Between As and You (ACW). Pada tahun 2007 umat Islam seharusnya, membaca Alquran dengan cara yang berbeda dan lebih segar. Dan bagaimana semua umat mampu membaca Alquran sebagai cara baca baru yang menghindari car abaca berbasis naskah.

Disini juga penulis mengamati ada dua kelompok di dalam ayat ALquran yang memberikan informasi tentang hubungan antara Muslim dan Kristen. Masing-masing kelompok terdiri dari klaster ayat. Saat ini umat Islam membutuhkan pergeseran paradigm dalam membaca ALquran, tanpa modal pembacaan ini, umat islam akan kesulitan karena kurangnya informasi yang utuh dari Alquran, dari sudut makna yang inklusif dan komperhensif.

Umat Islam maupun Kristen diharapkan untuk dapat membaca dan berpikir dengan cara yang segar sehingga mereka dapat membangun hubungan persaudaraan yang baik di seluruh dunia. Berkumpulnya 138 intelektual dan ulama Muslim pada tanggal 13 Oktober 2007, yang memberikan hukum formal dari berbagai Negara, yang menandatangani sebuah pernyataan. Gabungan yang bersejarah antara hubungan Islam dan Kristen yaitu dokumen yang sudah disebutkan sebelumnya, dokumen ini mengutip pernyataan-pernyataan argumentative dari ke-2 kitab suci ALquran dan Bible dan juga hadis. Yang dikutip dari ALquran surat Ali imron ayat 64 yang berbunyi “tia’alau ila kalimatan sawa’ bainana waa bainakum”.

Terdapat dua kata kunci yang sering disebut di dalam ALquran dan Bible, dan dipakai sebagai rujukan dan juga dasar utama kebersamaan adalah cinta Tuhan dan cinta tetangga. Dua kata ini, juga menjadi salah satu perdamaian dunia karena dunia ini didominasi oleh dua agama besar di dunia yaitu Isam dan Kristen. Dengan kata lain kedamaian dunia akan terganggu jiak dua penganut agama ini, saling bersitengang dan tidak hidup dengaan harmonis.

Menindaklanjuti semangat ACW dalam menegaskan kebutuhan mendesak akan kemitraan yang baik dan harmonis antara Muslim dan Kristen, memberikan pemahaman kepada kita perbedaan antara Islam dan Kristen dalam memahami relasi antara ketuhanan dan kemanusiaan, khususnya dalam hal bagaimana seharusnya Muslim dan Kristen membaca ALquran terkait dengan topic relasi keaagamaan., setelah mengenal kesepakatan ACW.

Pada hakikatnya, apa yang kita butuhkan adalah pengetahuan yang mendalam dan kesadaran yang tulus untuk memiliki dan membangun hubungan sekaligus kemitraan yang baik antara keduanya. Relasi keduanya lebih lengkap melalui pendakatan sistem terbaru dalam usshul fiqhi. Karya-karya ushul fiqhi mendiskusikan sumber-sumber hukum fikih. Penggunaan pendekatan sistem (system approach) Auda, 2008, diharapkan mampu memahami ALquran bagi para penganut dan pemuka dari tiga agama Ibrahim untuk tidak berhenti pada polmek teologi saja. Dapat diarahkan dan dialihkan pada arya praktik sosial dalam bentuk dialog yang lebih hidup dan nyata untuk membahas dan mengatasi kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, lingkungan, perubahan iklim, ketimpangan gender, pendidikan dan lain sebagainya yang sedang dihadapi oleh manisia.

Pendekatan Sistem dalam Menafsirkan ALquran tentang Hubungan Antara Islam dan Kristen

yang kita ketahui bahwa tidak mudah mengelaborasi ayat-ayat Alquran secara menyeluruh yang terkait dengan pemahaman ajaran agama lain dan implikasinya terhadap relasi agama Islam dan Kristen serta agama dunia lainnya, dalam memahami penganut agama lain, Muslim sendiri menemui kesulitan luar biasa (Ayyoub, 2001: 121-154; Rahman, l994: 166). Akar kesulitan yang dihadapi oleh penganut agama dalam memahami kitab suci Seperti disebabkan tidak hanya oleh fakta bahwa bahasa Arab adalah bahasa asing, namun juga oleh metode dan pendekatan atau cara membaca yang biasanya cenderung parsial, terpotong-potong, tidak komprehensif dan terpisah.

Tidak lupa juga, adanya kemungkinanmunculnya kepentingan yang turut mewarnai setiap penafsiran, baik berupa kepentingan ideologi nasional, ideologi agama, politik, dan lain sebagainya. Misalnya saja, gambaran Alquran tentang Kristen dan agama lain yang tersebar di berbagai surat dan ayat butuh pembacaan yang sangat terampil dan hati-hati. Karena bisa di katakana juba bahwa kualitas  pembacaan juga banyak ditentukan dari kesempurnaan dan ketidaksempurnaan informasi yang didapat oleh pembaca atau penafsir, dan cara mereka menyelaraskan informasi tersebut ketika membaca Kitab Suci mereka.

 Maka pengklasifikasian ayat di butuhkan untuk pembedaan antara  Islam, Kristen dan Yahudi yang tersebar di banyak ayat dan surat, Cara ini barangkali membantu para pembaca dan penafsir untuk menghindari keterjebakan dalam pembacaan yang terpotong-potong dan tebang pilih, seperti yang di sampaikan oleh Muhammad Ayyub, ia dapat menyimpulkan bahwa ada dua kelompok besar ayat Alquran yang sesungguhnya saling berhubungan dan terkait, dan mempunyai spirit dialog dan kritik. Adapun kelompok pertama, terdiri dari beberapa klaster ayat Alquran yang menjelaskan keragaman agama dan dinamika relasi antar keyakinan adapun kelompok kedua, terdiri dari dua klaster ayat Alquran yang bertindak sebagai keputusan final Alquran dalam menghadapi realita sosial keagamaan komunitas agama dengan ragam isu dan perselisihan teologis yang tidak dapat dikompromikan.

Banyak di temukan berbagai polemic di dalamnya seperti polemik teologis ini ditemukan di klaster ayat kelompok pertama yang dibaca secara terpotong-potong, terpisah dan tebang pilih. Pembacaan yang demikian akan terputus dan tidak mengizinkan interaksi kritis antarayat atau mengakui keragaman informasi dan makna yang ditemukan di dalam konten ayat yang berbeda. Dengan pemahaman itu maka dapat di jelaskan bahwa kedua kelompok besar atas ayat-ayat tersebut (kelompok pertama dan kedua) membentuk sebuah sistem yang menyatu. Sehingga tidak ada informasi apapun di dalam ayat-ayat Alquran yang dapat dihapus atau dibatalkan (naskh-mansukh) tanpa maksud yang jelas (El Fadl, 2006: 254 ).

Adapun dalam pembaca ataupun penafsir akan mendapatkan informasi yang tidak utuh dan makna yang tidak komprehensif dan inklusif. Maka dari itu dengan model pembacaan Kitab Suci ini adalah model yang di sebut sebagai pembacaan dengan pendekatan sistem, bukan model pembacaan dengan pendekatan naskh-mansukh. Kesuksesan atau kegagalan dalam menghubungkan, mengaitkan dan mendiskusikan secara kritis kedua kelompok besar ayat-ayat tersebut di dalam sistem yang integral akan sangat memengaruhi pola relasi sosial antar penganut agama-agama, terutama Islam dan Kristen baik di dalam ranah sosial maupun praksis politik.

Disini juga ditemukan beberapa klaster, yang pertama ditemukan dengan lima klaster. klaster pertama adalah kesatuan umat manusia. Alquran secara eksplisit menjelaskan bahwa umat manusia pada awalnya adalah satu entitas, namun kemudian terpecah karena wahyu Tuhan yang diberikan kepada para nabi. Sedangkan yang menjadi pertanyaan disini mengapa wahyu, bukannya menjadi sumber kekuatan, justru memecah umat beragama, dengan beberapa pernyataan bahwa hal ini adalah di antara rahasia Tuhan, karena jika Dia menginginkan, tentunya Dia akan menyatukan mereka semua (Rahman, 1994: 236). Tetapi, namun hal ini disangkal oleh bebrapa pernyataan yang lain, bahwa Tuhan tidak melakukan itu semua. Informasi ini dapat ditemukan di dalam Surat al-Baqarah (2): 213; Hud (11): 118 dan Yunus (10):19.

Adapun klaster kedua: pluralisme dan pluralitas hukum agama. Seperti yang kita ketabui bahwa  Alquran menjelaskan Taurat merupakan Kitab Suci pengikut Nabi Musa. Kitab ini memuat perintah-perintah dan penerangan. Semua hal yang berhubungan dengan umat Yahudi diputuskan menurut kaidah-kaidah di dalam Kitab Taurat, Injil diturunkan kepada pengikut Nabi Isa. Di dalamnya terdapat petunjuk dan penerangan juga, dan Injil membenarkan ajaran kitab sebelumnya, Taurat. Injil berisi petunjuk-petunjuk bagi siapa saja yang takut kepada Allah  pengikut Injil diseru untuk hidup sesuai dengan ajaran Injil yang telah Allah wahyukan kepada mereka, seperti yang kita ketahui bahwa alquran membawa pesan dan kebenaran bagi umat penganutnya, selain itu juga mengakuikebenaran kitab-kitab terdahulu :Taurat, Injil dan Zabur.

Selain memang di wajibkan untuk mengimani kitab-kitab yang diturukan nabinya, seperti umat Mhammad yang wajib iman kepada kitab alquran, umat sebelumnya yang juga seagama di wajibkan untuk mengimani semua kitab itu, tak hanya itu alquran menjaga integritas komunitas agama sesuai dengan kepercayaan dan aturan yang diajarkan oleh setiap nabi baik Musa, Isa terutama nabi kita Muhammad, dengan kata lain, untuk menjaga harmoni dan persatuan penganut agama-agama yang berbeda, hendaknya tidak ada gerakan-gerakan dakwah di antara umat Yahudi, Kristen dan Islam, tidak ada ajakan atau bentuk dakwah-dakwah yang mengajak orang lain untuk pindah agama maka muncullah surah Al-Kafirun yang berbunyi bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

 Banyak perdebatan teologis antara islam dan keristen yang menghambat hubungan keduanya, Perdebatan ini masih berlanjut dan menggarisbawahi kebutuhan penggunaan perspektif dan paradigma baru dalam melihat pertanyaan-pertanyaan teologis yang mengganjal ini. Perlu di ketahui juga bahwa walaupun kadang alquran bernada keras namun alquran juga megakui adanya agama keristen.

Adapun secara umum pemikiran keagamaan Islam yang eksklusif direpresentasikan oleh kelompok Islam politik dan ektremis militan ”Muslim garis keras”, mereka kembawa teori berbeda dengan teori fiqh, usul fiqh, dan kalam yang disebarluaskan oleh para Muslim progresif yang mengadopsi ijtihad (penalaran rasional) (Saeed, 2006: 150-4; Safi, 2005). Dijelaskan juga bahwa sejatinya Tuhan sudah menghendaki pluralitas agama ini,begitupun dengan Fazlur Rahman menyebut realita yang tak terelakkan ini sebagai rahasia Tuhan: alasan dibalik mengapa muncul keberagaman dan pluralitas agama di dunia. Sehingga siasia untuk menolak realitas tersebut.

Dalam surah al-Ma’idah (5): 48) seperti yang dijelaskan bahwa, adanya pluralitas hukum agama dalam pluralisme agama secara umum diakui secara jelas di dalam Alquran. Setiap umat atau kelompok sudah diberikan kitab suci, hukum-hukum, aturan khusus untuk mengatur kehidupan manusia, namun aspek yang paling penting adalah percaya kepada tuhan, dan apa-apa yang telah di perintahkannya kepada kita semua, melalui islam progresif maka kita semua dapat hidup damai berdampingan dengan sesame umat ber agama yang lain, khususnya Kristan dan agama-agama yang lain.

Pada dasarnya yang kita butuhkan saat ini adalah pemikiran yang terbuka yang mampu mengusung toleran dan humanis, mampu menjaga keharmunisan sesame mengimbangi dan menjaga segala hal yang merusak persatuan, hubungan sesama apalagi yang mengusung pendapat dengan berlandaskan perintah  agama, kebanyakan membuat ummat amburadur dengan semua itu, Perubahan total tidaklah diharapkan, tidak untuk meninggalkan tradisi lama dalam berpikir dan beragama secara radikal sebagaimana dijelaskan oleh Karl R. Popper sebagai ‘falsifikasi’. Sebaliknya, yang kita butuhkan dalam memahami masalah agama adalah dengan menggeser metode dan pendekatan, cara pandang dan bagaimana memahami semua itu, dari itu pula bisa kita katakan bahwa disaat kita menguah pola dan cara pandang kita terhadap suatu agama tidak akan mengubah agama itu sendiri, tapi bagaiman kita beragama yang baik dan menerima orang-orang yang ada di sekitar kita dengan baik juga. Oleh karena itu yang berubah bukan objek keagamaan atau agamanya, malainkan subjek yang melihat, menkmati, menafsirkan, memahami, mendapatkan manfaat dan menggunakan agama sebagai semestinya, sehingga terciptalah keharmunisan dalam beragama. 

Karia yang bertemakan Ketuhana dan Kemanusiaan dalam Islam dan Keristen memberikan banyak pemahaman pada kita, bagaimana kita hidup ber-agama terutama bertetangga hidup harmuni berdampingan dengan yang lain beda etnis, budaya, agama terutama cara pandang terhadap teologi agama yang di yakini, tidak sedikit menimbulkan pergolakan terutama perpecahan   dari keyakinan dan sudut pandang merke terhadap apa yang mereka anut.

Maka perlu kiranya kita memahami dan keng hayati arti hidup dalam ber-agama dan bertetangga. Seperti yang dijelaskan dalam artikel ini yang menggunakan pendekatan sistem system approach  sebagai cara pandang baru dalam membaca alquran yang tidak hanya berlandaskan ada naskh  agama-agama semata, hal itu lah yang benyak memberikan perselisihan pada cara pandang manusia, terutama pada era saat ini  tak sedikit para tokoh agama, kiai, ulamak bahkan para pemuka agama yang saya ketahui.

Disini saya akan sedikit mengutip setudi kasus yang saya pahami, bahwa memang delapan puluh persen dari isu-isu ketuhanan dan kemanusiaan yang masih cendrung ekstrim banyak dibawa oleh para pemuka agama yang hanya mengkaji agama dari sudut pandang naskh  saja, seperti halnya di desa saya Madura Pamekasan  saat saya berada di rumah dan berkesempatan menghadiri beberapa kajian yang di selenggarakan oleh para pemuka agama yang ada di sekitar saya, saat itu juga saya sering hadir dan meneliti apa-apa yang di sampaikan oleh para kiai bahkan yang di tokohkan oleh para masyarakat khususnya para kaum awam.

Boleh saya katakan disini bahwa otak ataupun 90% dari perilaku sikap dan sudut pandang yang di adopsi  oleh  masyarakat awam adalah: “apa-apa yang di sampaikan oleh tokoh agama setempat” melalui acara-acar pengajian akbar yang banyak di selenggarakan oleh tokoh agama setempat, 90% yang di sempaikan oleh mereka cendrung ekstrim dan tidak sedikit membuat masyarakat berperilaku anarkis, karena semua yang di sampaikan oleh para pemuka agama maka 100% masyarakat awam meyakini, mengamini bahkan cendrung pula mengimani.

Maka dari beberapa pemaparan studi kasus di atas perlu kiranya ada transformasi pradikma, sudut pandang dan pemikiran yang di adopsi oleh masyarakat khususnya para pemuka agama saat ini,   sebagai mana apa yang di sampaikan oleh Karl R. Popper sebagai filsafat bahwa yang kita butuhkan dalam memahami masalah agama adalah dengan menggeser metode dan pendekatan, atau sebagai mana yang di yang di formulasikan dengan pergeseran pradikma seperti yang di perkenalkan oleh Thomas Kuhn yaitu metode pendekatan dan cara untuk menganalisis isu-isu ketuhanan dan kemanusiaan dengan persepektif baru sesuai dengan kemajuan zaman pengatahuan dan peradaban manusia saat ini.

Seperti yang telah di rumuskan oleh 138 intelektual dan ulamak Muslim pada tanggal 13 Oktober 2007, yang menghasilkan sebuah pernyataan dan kesepakatan besar bersejarah oleh kesepakatan Islam dan Keristen yaitu  A Commen Word Beween Ua end You  yang berarti ‘Ikrar Bersama antara Kami dan Kalian’ di ambil dari terjemahan ayat Alquran, Surat Ali Imran (3), ayat 64 dengan bunyi ”ta’alau ila kalimatan sawa’ bainana wa bainakum’ dari ayat di atas dapat di simpulkan juga bahwa alquran juga menganjarkan kita hidup damai, akur berdampingan dangan yang lain.

Dapat di katakan juga bahwa dunia ini di dominasi oleh dua agama besar yaitu Islam dan Keristen jika di gabungkan ada sekitar 55% Muslim dan 23% Kristen maka jika kedua agama ini akur dan hidur berdampingan makan tercipta juga sebuah kedamayan dan harmunisasi, tak hanya itu kita juga di tuntut untuk memiliki pemahaman multikulturalisme agama, sehingga semua hidup harmuni. Seperti dua kata munci yang sering di sebut dalam alquran dan bible dan nenjadi dasar utama kebersamaan yaitu cinta tuhan dan ci ta tetangga, maka dari itu semua patut kiranya kita mengapresiasi apa yang di bawa oleh islam progresif (ACW). Dari beberapa pemaparan di atas setidaknya kita sudah mampu memilah dan memilih terlebih pada pemikiran agama  islam eksklusif yang direpresentasikan oleh kelompok islam politik garis keras, sehingga kita bisa hidup rukan, damai dan tidak ada lagi pertentangan sudut pandang teologis yang di hasilkan oleh pemikiran agama yang hanya berbasis naskh  saja, apa lagi saat ini sering muncul aksi kekerasan yang berlandaskan atas nama agama

Komentar