Oleh : Khoir
Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat luas dan kaya dari Sabang sanpai Merauke dengan luas 1,91 dan dapat kita temukan 17.504 pulau, 1.340 suku, 267 juta penduduk dengan 6 agama yang telah di akui di dalamnya[1]. Kita pun harus mensyukur dapat hidup berdampingan aman dan damai dalam satu rumah yang disitupun penuh keragaman dan keberagamaan.
Namun tidak dapat dipungkiri juga di saat kita hidup berdampingan dalam sebuah perbedaan pasti kita akan menemukan satu hal yang akan meresahkan telinga bahkan kehidupan kita entah itu kesalahpahaman, ujaran kebencian, fitnah bahkan intoleransi, juga di tahun saat ini pun banyak konflik terjadi yang diakibatkan oleh intoleransi.
kata intoleransi berasal dari bahasa latin ‘’tolerare’’ yang berarti sabar dan menahan diri juga dapat diartikan suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) intoletansi adalah ketiadaan teggang rasa. Benyak kita temukan Intoleransi terjadi, salah satunya dikarenakan perbedaan agama yang kita kenal denga sebutan ‘Intoleransi keberagamaan’. Intoleransi kebaragamaan adalah suatu bentuk intoleransi atau kurangnya toleransi terhadap kepercayaan atau peraktek agama lain. Mereka menganggap agama merekalah yang paling benar sehingga seakan-akan tidak mau menerima kedatangan dan keberadaan agama yang lain.
Menurut Ahmad Syarif Yahya dalam bukunya yang berjudul ‘’Ngaji Toleransi’’ disitu dijelaskan bahwa ada tiga hal yang menjadi penyebab menguatnya sikap intoleransi di kalangan masyarakat Indonesia. Pertama, globalisasi, perkembangan situasi global yang mengikis nilai-nilai kebersamaan salah satunya adalah gotongroyong yang mana memang dulunya tradisi itu sangatlah kental dalam kehidupan ini namun sejak situasi global yang meningkat dengan sangat pesat sehingga taradisi itupun mulai luntur, juga dipengaruhi oleh sikap individualisme yang sangat kuat salah satu contoh kehidupan di perkotaan karena memang kehidupan mereka bersifat organik. Kedua, kehidupan yang didominasi oleh low class. kondisi di Indonesia yang di dominasi masyrakat kelas bawah (low class). Masyarakat kelas bawah ini bisa di golongkan sebagai masyarakat yang kurang beruntug dalam mendapatkan pendidikan, ekonumi, dan lain sebagainya juga keinginan untuk melakukan suatu perubahan yang cepat, kritis tapi tidak rasional dan juga perbedaan ini dan juga kuatnya nilai primurdialisme yang nantinya muncul tindakan-tindakan intoleransi terhadap sesame. Ketiga, perkembangan Media Sosial (Medsos) yang sangat cepat. Melalui perkembangan medsos ini paham intoleran banyak disebar luaskan, dulu orang mengajarkan paham radikal itu dengan cara pertemuan atau cara diskusi, sedangkan sekarang benyak dari mereka menggunakan medsos. Memang dizaman sekarang apapun bisa di lihat dan dipelajari lelalui media sosial maka jangan heran jika media sosial juga menjadi salah satu faktor pendukung dari intoleransi.
Bahkan konflik yang diakibatkan oleh intoleransi setiap tahunnya meningkat, ada 62 kasus 2010 – 92 kasus 2011 – 278 kasus 2012 – 245 kasus 2013 – 158 kasus 2014[2], bahkan yang paling miris untuk saat ini adalah penolakan terhadap warga baru (pendatang) yang berbeda agama di Dusun Karet, Pleret, Bantul, DIY. Penolakan terhadap kedatangan pak Slamet beserta keluarganya yang berniat untuk mengontrak (sewa) rumah di RT 8 tersebut di tolak warga setempat dikarenakan berbeda agama. Pak Slamet merasa sangat kecewa atas tindakan warga setempat dengan alasan non Muslim atau Katolik. “Mereka menolak kedatangan kami” ujar pak Slamet. Dia sangat menyayangkan hal itu bisa terjadi, melihat Indonesia yang sudah puluhan tahun hidup perdampingan dengan aman dan damai yang seharusnyan juga toleransi sudah tertanam kuat di dalam diri individu.
Sedangkan kepala RT dan kepala Dukuh mengatakan “undang-undang itu sudah di terapkan selama 4 thn demi keamanan dan ketentaraman di RT tersebut melihat di luar sana terjadi berbagai macam konflik yang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama” ujar pak Dukuh. Harapan pak Slmet ‘’semoga hal ini tidak terjadi lagi karena hal ini sangat merugikan bagi orang lain hususnya kami sebagai warga Negara Indonesia yang mana Negara menjamin kemerdekaan setiap penduduknya untuk memeluk agama yang mereka yakini masing-masing’’ ujar pak Slamet.
Indonesia yang hidup dalam keragaman dan keberagamaan harus lah tertanam pemahaman yang baik terhadap sebuah perbedaan sifat dan pemahaman toleransi yang kuat di setiap individu karena dengan itulah toleransi akan terwujud dan terealisasikan, dan dengan itu juga keamanan dan kedamayan akan tercapai didalam negri ini Hususnya para orang-orang terpelajar para mahasiswa ataupun para sarjana, karena menurut Helen Keller hasil tertinggi dari sebuah pendidikan adalah toleransi, maka dari itu orang-orang yang memiliki pemahaman dan kecerdasan merekalah yang bisa bertoleransi.
Komentar
Posting Komentar