Oleh : Khoir
Desa sebagai representasi tradisional,
disebut juga dengan rural community atau masyarakat desa, dengan
karakteristik yang masih nampak jelas didalammya tertinggal, miskin, kekeringan,
tingkat pendidikan yang rendah, bahkan tak jarag pula tergolong pada fakir
miskin. Secara sosiologis desa menggambarkan suatu bentuk kesatuan masyarakat
atau komunitas penduduk yang bertempat tinggal dalam suatu lingkungan dimana
mereka saling menganal dengan baik yang disebabkan juga corak hidup mereka yang
homogen dan memiliki hubungan yang intim dan awet, hidup secara sederhana,
ikatan sosial adat dan tradisi yang masih kental, sifatnya jujur dan bersahaja.
Begitupun disaat kita berbicara desa,
takkan pernah terlepas dari yang namanya masyarakat, karena masyarakat
merupakan salah satu komponen penting dalam segala sektor baik dari bidang
sosial, ekonomi, politik budayaan dan tradisinya, dalam pandangan struktur
fungsionalisme masyarakat merupakan satu kestuan yang terstruktur, memiliki aturan
yang wajib dijalankan. Mazhab ini beranggapan bahwa masyarakat itu ibarat satu
tubuh yang memiliki berbagai macam struktur yang saling terikat satu sama lain,
saling berpengaruh dan sejalan. Selain itu disana tradisi krap kali dianggap
kebiasaan pola hidup, atau budaya lokal, selain itu desa menjadi basis sosial
atau tampat yang paling tepat untuk memupuk modal sosial seperti tradisi
solidaritas, kerja sama, gotong royong secara kolektif yang meliputi
batas-batas eksklusif seperti kekerabatan, suku, agama, aliran atau sejenisnya,
disanapun masih kental dengan kearifan
lokalnya, budaya dan tradisi yang masih mengakar kuat masih dapat kita temukan
di desa.
Menurut salah satu tokoh besar
sosiologi kelahiran prancis yaitu Emile Durkheim, iya mengatakan bahwa masyarakat
desa tertuju pada solidaritas, dimana solidaritas masyarakat pedesaat disebut gemeinscaft
dikatagorikan pula sabagai masyarakat yang memiliki solidarias mikanik, solidaritas
yang kuat dengan hukum represif yang menghendaki para pelanggar dihukum
secara moral maupun sosial dan keburukan itu akan terus terpatri dalam benak
masyarakat seumur hidupnya sebagai orang yang pernah melanggar hukum atau norma
yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Namun dalam hal ini penulis ingin lebih
fokus pada pembahasan kemisknan dan jerih payah banting tulang peras keringat
masyarakat disa, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mulai dari kebutuhan pangan,
papan dan sandang, apalagi tak jarang desa dikatagorikan dengan tempat
orang-orang miskin begitupun dengan para penghuninya. Mari kita sedikit
membicarakan masalah ini dalam kata miskin apakah hanya asumsi atau friksi
belaka yang beredar dalam banak orang-orang .??
Kemiskinan merupakan problem kompleks
yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, dalam pandangan konflik kemiskinan
merupakan hal yang dilakukan secara sengaja guna memanfaatkan tenaga buruh,
mendominasi dan mengesploitasi demi kepentingan pribadi atau kelompok. Di pedesaan
dapat kita lihat seperti para buruh tani dengan jerih payah dan usaha yang
sangat keras begitupun dana yang tak sedikit dalam mengolah pertaniannya, namun
seringkali para pemilik modal memberikan harga yang timpang pada hasil
pertanian mereka seprti halnya para pentane jangung, padi cabai tarutama tembakau
yang perosesnya sangatlah melelahkan dan membutuhkan banyak waktu dan dana
dalam proses perawatan dan pemupukannya. Dalam pandangan Friedman, kemiskinan
juga berarti ketidak samaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan
sosial ini yang melipoti: Modal produktif seperti tanah, alat produksi,
perumahan, kesehatan, sumber keuangan, organisasi sosial dan politik yang dapat
digunakan untuk kepentingan bersama seperti koprasi, partai politik, organisasi
sosila, jaringan sosial, pengatahuan pun
keterampila dan nformasi yang berguna untuk kemajuan hidup (Feriedmen dalam
Suharto, dkk., 2004).
Dari berbagai poin yang telah di sebut
di atas menunjukkan bahwa, desa sangatlah minim untuk menupang kemajuan karena
kebayakan dari mereka memiliki lahan pertanian seperti sawah untuk bercocok
tanam namun tak mampu untuk menjadi ladang perekonumian dalam kesehariannya,
apalagi dari tahun ke tahun hasil cocok tanam mereka selalu mengalami penurunan
bahkan kerugian yang sangat besar. Serperti halnya para menanam tembakau yang
memeng di desa saya saat ini masyarakat seragam bercocok tanam tembakau dan itupun
suklus kegiatan masyarakat setiap tahun. Tepatnya di Desa Bujur Tengan
Kecamatan Batumarmar Kabupaten Pamekasan, bercocok taman tembakau yang menurut
mereka tanaman itu adalah daun emmas yang sangat menjanjikan dengan kisaran
harga empat sampai lima puluh per kilonya, namun harga itu belum mencukup untuk
menutupi jerih payah para petani tembakau. Karena kisaran harga itu masih jauh
dari kata untung.
Peroses penanaman tembakau sangatlah melelahkan,
mulai dari pembibitan hingga panin membutuh ketelatenan untuk mendapatkan hasil
yang maksimal. Namun kadang walaupun hasil panin sudah bagus dan bisa dikatakan
setandar namun tak jarang mereka masih mendapatkan
kekecawaan, lantaran harga yang tidak sesuai dengan jerih payah mereka.
Begitupun dengan tahun ini harga yang sudah di tentukan, seperti yang di
kabarkan oleh Break Event Poin (BEP) atau Biaya Pokok Produksi (BPO) tembakau
Madura di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur paling tinggi sebesar Rp
54.437 dan paling rendah Rp 32. 708 paling bawah perkilogram oleh Akhmad Sjaifuddin
sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan (
Media Madura, 17-072020).
Kisaran harga ini masih sangat jauh
dari harapan masyarakat “pengelolaan tembau sangat menguras keringat, biaya dan
juga waktu kalau Cuma harga segitu mana bisa memenuhi jerih payah kami, kalau
sampai 6-70 ribu perkilo itu baru sebanding dengan apa yang kami usahakan
karena kabanyakan dari kita yang dijadikan modal ber-tani itu hasil ngutang kadang
juga jual sapi untuk modal penanaman tembakau ini, apa lagi di musim kemarau
ini air harus mebeli” ujar pak Suhadi selaku petani tembakau di Desa Bujur
Tengah. jadi seharusnya pemerintah meberikan solusi yang terbaik bagi para peteni
tembakau setiap tahunnya agar para
peteni tidak tumpang tindih lantaran ingin mencari keuntungan dari hasil panin
tembakau malah sebaliknya, apa lagi di musim kemarau di desa ini sangat kesulit
untuk mendapatkan air mereka harus membali untuk menyirami tembakau-tembakau
mereka hingga biayapun membekak parah.
Harapan masyarakat, khususnya para
petani tembakau bagaimana kedepannya harga lebih baik, setidaknya seimbang
dengan usaha dan biaya yang telah di upayakan oleh masyarakat ter-khusus di
Desa Bujur Tengah Kecamatan Batumarmar Kabupaten Pamekasan ini, dan jika harga
tembakau sudah mapan maka masyarakat tidak akan kebingungan lagi untuk
mengembalikan modal-modal yang mereka keluarkan.

Komentar
Posting Komentar