Langsung ke konten utama

Berzanji Keliling Sebagai Modifikasi Ritual Keagamaan di Era Pandemi





Oleh : Khoir

Dalam setiap langkah yang menuju pada perubahan dan kemajuan, akan banyak kiata temukan hal baru yang unik dan asing di di depan mata bahkan jarang kita temukan sebelumnya. Karena perubahan dalam kehidupan adalah suatu hal yang sangat pasti dan tak dapat di elakkan, berbagai penemun teknologi yang mempu menemani ataupun melemahkan langkah manusia untuk melaju melewati poros kencang dan kerasnya alur kehidupan seperti itu kira-kira. Begitupun kerasnya segala hal yang mempu melemahkan dan membunuh manusia segala keraguan dan kewaswasan akan mewujudkan tindakan, pandangan ritual yang baru, seperti adanya covid-19 di era saat ini tak sedikit respond dan tanggapan masyarakat ber-agama sebagai perlawanan dari keyakinan yang berbentuk ritual maupun yang lainnya , namun selain itu untuk menghadapi perubahan yang nyata agama harus mengubah strategi dan metode yang lebih baru. Begitupun agama mengemas beragam bentuk keberagamaan baru yang memberikan ruang dan jawaban atas perubahan ritual keagamaan seperti yang di adakan oleh masyarakat Pegantenan Kecamatan Batumarmar Kabupaten Pamekasan ini, yang menggelar Berzanji Keliling sebagai bentuk pengusiran terhadap adanya wabah Covid19 saat ini,

Berzanji atau sholawat barzanji adalah bentuk kesenian yang bernafaskan Islam atau sebagai sarana dakwah Islam dengan Kitab Barzanji sebagai sumbernya . Kitab Barzanji sendiri adalah karya tulis dari Syekh Ja’far Ibnu Hasan Ibnu Abdul Karim Ibnu Muhammad al Barzanji. Kitab barzanji tersebut merupakan salah satu kitab  yang paling populer dan paling luas terkenal ke pelosok negeri arab dan islam, baik di bagian timur maupun barat. Kitab tersebut berisi tentang prosa dan sajak yang bertutur tentang biografi Nabi Muhammad SAW.  Adapun dalam pemahaman lainnya, Barzanji merupakan suatu doa-doa, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad SAW yang biasa dilantunkan dengan irama atau nada. Tradisi budaya Islam ini dapat dikategorikan sebagai kelompok seni pertunjukan yang terdiri dari vokal, musik, dan tanpa tari atau gerakan badan. Kelompok dalam kesenian ini cukup banyak lebih dari 25 orang bisa laki-laki ataupun perempuan muda atau dewasa dan dengan satu komando yang memimpin dalam pembacan barzanji ini pada umumnya.

Namun dewasa ini  biasaya masyrakat muslim khususnya orang Madura membaca sholawat berzajih pada bulan mauled Nabi Muhammad SAW di tempat-tempat khusus seperti di masjid ataupun di mosolah, kadang pula berzanji dibacakan saat empat puluh hari kelahiran anak atau dalam bahasa Madura sendiri disebut dengan (temangan), juga saat mantenan setelah ijab dan qobul di hari pernikahan karena orang Madura menganggap berzanjih bukan sekedar puji pujian melainkan doa yang bisa mendatangkan kebaikan dan keberuntungan. Tulisan ini juga ter-inspirasi dari teori tindakan Marx Weber, yang mengatakan bahwa agama juga memeiliki korelasi positif dengan tindakan sosial individu dalam masyarakat, karena agama memjadi world view dan etos tindakan manusia tentang dunianya, Marx menyatakan bahwa tindakan individu banyak di pengaruhi oleh agama (Marx Weber, 1905). Jadi memang adanya ritual keagamaan ini lantaran kepercayaan mesyarakat terhadap doa-doa atau puji-pujian (berzanji), mereka percaya dengan puji-pujian itu akan mendatangkan banyak keberkahan dan dijauhkan dari segala mara bahaya ataupun wabah penyakit sekalipun, namun tak hanya itu Marx juga  melihat bahwa agama sebagai instrumen yang megontrol berbagai tindakan dan perilaku manusia secara individu maupun kelompok. Agama secara kritis dilihat oleh Marx sebagai alat pengontrol tindakan manusia untuk melangkah ataupun melakukan suatu hal dalam kelompoknya. Kesetia kawanan yang menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu dengan kelompok yang di dasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang di anut bersama dan di perkuat oleh pengalaman emosional bersama (Jones, 2009). Dalam teori ini sangatlah berhubungan erat dengan apa yang terjadi sekarang karena agama sebagai salah satu yang dapat memunculkan sebuah perbedaan maupun keseragaman dalam masyarakat yang berbentuk tindakan atau pola-pola kehidupan masyarakat dalam kesehariannya.

Namun beda lagi neh disaat datangnya covid-19 yang biasanya berzanji terdengar saat bulan maulid, temangan dan mentenan atau di momen-momen khusus, sedangkan ditengah kedatangan pendemi covid masyarakat Pegantenan Pamekasan Medura ini mengadakan berzanjih keliling, mungkin dikarenakan mayoritas masyarakat suku madura yang hampir 98% beragama islam, bahkan suku madura yang tinggal di madura bisa dikatakan 98% memeluk agama islam. Suku Madura terkenal sangat taat dalam beragama, seperti halnya suku melayu dan suku bugis yang juga menjunjung tinggi agama dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bukti bahwa suku madura menjunjung tinggi agama dalam kehidupan sehari-harinya ialah dengan berdirinya pondok pesantren yang tersebar di pulau Madura, misalnya Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Miftahul Ulum Panyepen dan masih banyak yang lain. Begitupun respond dan dukungan  para ulamak Madura khususnya para tokoh masyarakat yang ada di sekitar daerah pegantenan yang turut mendukung dalam terselenggaranya acara berzanjih keliling itu. ‘’Pencegahan penyebaran virus ini, selain dengan cara memakai masker, cuci tangan menjaga imun dan iman,  kegiatan ini juga salah satu bentuk dari permohonan kami kepada Allah untuk mengusir semua wabah yang ada di Indonesia hususnya di Desa Pegantenan  ini’’ tutur mas Hamdan salah satu penitia kegiatan berzanji keliling.

Hadirnya virus corona deases 19 atau disingkat dengan COVID-19 ini, masyarakat Madura juga meresponnya tidak terlepas dari agama. Masyarakat madura khususnya di Desa Pegantenan Kecamatan Batumarmar Kabupaten Pamekasan, bersatu melawan corona dengan cara menyelenggarakan ritual keagamaan, mereka menamai kegiatan tersebut Barzanji Keliling, kegiatan tersebut dicetuskan oleh para pemuda Desa Pangentenan. Barzanji keliling dilaksanakan hampir setiap hari, setelah selesai menunaikan shalat isya. Berazanji ini berbeda jauh dari ritual barzanji yang biasa dilakukan di hari-hari tertentu, jika biasanya dilaksanakan dengan duduk manis sambil menikmati hangatnya kopi dan berbagai buah-buahan yang ada di depan mata, duduk rapi sebagai tamu undangan yang di hormati dengan pakayan rapi resmi dan kadang pula banyak yang memakai baju qoqo dengan sarung dan kopiah hitamnya didalam masjid atau mushollah, maka berzanji keliling kali ini dilaksanakan sesuai dengan namanya. Yaitu dengan berkeliling di jaalan raya pegantenan sambil membaca berbagai macam sholawat dihiasi dengan kemilau sinar  obor yang di bawa para seluruh peserta.

Dalam melaksanakan kegiatan keagamaan tersebut masyarakat setempat ada yang berjalan kaki dan ada yang menggunakan kendaraan, baik kendaraan roda 2 (dua) maupun kendaraan roda 4 (empat), dan yang menggunakan kendaraan berada dibarisan terdepan kemudian diikuti oleh pejalan kaki dibelakang kendaraan tersebut, tak lupa pula di barisan ter-depan dengan mengandarai roda 4 dan juga membawa pengeras suara, sebagai komando dari bacaan-bacaan sholawat yang di lantunkan di setiap langkah perjalanannya. Acara ini di laksanakan seminggu sebelum romadan berlangsung hingga tanggal pertengahan romadan, mereka sepakat memberhentikan acara itu dengan alasan ingin lebih khusyuk menyambut datangnya malam lailatul qodar, tutur Hamdan Syabiul Khoir selaku panitia acara berzanjih, menurup penulis sendiri ritual ini sangat bangus selain membentuk solidaritas yang kuat juga menunjukkan respon masyarakat beragama terhadap suatu hal yang meresahkan mereka karena ita sebagai manusia yang penuh keterbatasan, tidak akan pernah tahu sampai kapan wabah ini akan berakhir, namun kita harus selalu berdoa dan berusaha agar pandemi ini lekas punah. Meskipun telah ada himbauan untuk melaksanakan kegiatan peribadahan dirumah, akan tetapi masyarakat tidak mau hanya berpangku tangan menerima keadaan ini begitu saja yang penuh ke waswasan dan ketidak pastian. Begitupun kita sadari bahwa manusia adalah mahluk sosial yang butuh intraksi dan bersosialisasi dengan yang lainnya begitupun  dengan masyarakat beragama, mereka membutuhkan ritual, puji-pujian dan doa untuk memupuk keyakinannya memperkuat iman dan imun dan tetap harus membentuk solidaritas yang kuat untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya.

 Harapan penulis, semoga perbedaan tak jadi persoalan apa lagi perdebatan yang menimbulkan perpecahan, hususnya para masyarakat  beda agama,  begitupun friksi atau pun insinuatif yang berbaiu agama mampu di felter dengan baik ter khusus ritual ke-agamaan  yang berbeda dan bervareasi dikalangan ummat ber-agama, dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing mempu menyatukan semua kalangan hingga menjadi negri yang Baldhatun Toyyibatun Warobbun Ghafur aman tentaram dan sejahtar amin.


Komentar