Oleh: Khoir
Dalam sebuah kajian filsafat dijelaskan bahwa karakter seseorang menentukan takdirnya, perilaku sifat dan kebiasaan manusia salah satunya disebabkan oleh karakternya, dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) karakter adalah sebuah sifat-sifat kejiwaan, ahalak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.
Karakter lebih pada perilaku keseharian yang mencerminkan kehidupan individu, dalam kajian itu di jelaskan juga bahwa karakter menentukan sikap atau prilaku individu hari ini esok bahkan seterusnya, jika karakter orang itu baik maka baik pula lah kehidupan orang itu begitupun sebaliknya jika karakter orang itu buruk maka buruk pulalah kehidupan dan masadepan orang tersebut, karena orang lainpun akan menjastis seseorang berdasarkan sikap dan perilaku kesehariannya.
Lantas yang menjadi pertanyaan apakah setiap orang sudah ber-karakter baik atau memang tidak semua orang memiliki karakter itu..?
Tentu jawabannya tidak kenapa..? karena dilihat dari anatomi organ tubuh manausia manusia memiliki hati. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) hati adalah anatomi organ badan yang berwarna ke merah-merahan di bagian kanan atas rongga perut. Hati juga sering kali disebut sebagai ‘heart’ (Inggris) yang bermakna jantung, karena itu bentuknya sering digambarkan seperti jantung, dalam bahasa arob disebut qolbu yang artinya hati.
Sedangakan pengertian ‘’Qolbu’’: menurut Syekh Abu al-Hasan al-Jurjaniy didalam kitabnya ‘’at-Ta’rifat’’ : Qolbu adalah sifat lembutnya ketuhanan yang terdapat dalam jiwa manusia. Manusia sering melakukan sesuatu atar nafsunya yang mengakibatkan perbuatan tersebut berujung pada hal negative terlena pada rayuan nafsu semata yang hanya memberi senyuman sesaat dalam kehidupan ini.
Raga, jiwa dan sifat manusia tergantung pada segumpal darah yang ada dalam dirinya seperti hadis Rosul dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim).
Dalam hadis diatas begitu jalas bahawa hati adalah sebuah kontrol perilaku dan sikap manusia dalam ke sehariannya, ibarat sebuah syariat yang menjadi kontrol bagi hukum-hukum allah untuk di jadik panutan seluruh ummat.
Lantas bagaimanakah cara seseorang melatih dirinya untuk memiliki karakter yang baik, tentunya dengan cara melatih diri menjadi lebih baik sedikit demi sedikit perlahan tapi pasti tanpa harus menunggu besok atau luasa apa lagi menunggu hidayah dari tuahan itu hal yang mustahil bagi kita semua. Semuanya akan berubah dengan cara kiata masing-masing karena semua hal itu tak kan berubah dengan sendirinya kecuali kiata berusaha untuk mengubahnaya seperti kalamullah dalam kitabnya yang berbunyi:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. QS ar-rad-ayat-11
Ayat ini memerintahkan kita untuk menjadi orang-orang yang paham dan sadar akan sebuah cara perubahan, bahwa perubahan itu takkan terjadi dengan sendirinya tanpa ada tindakan eskalasi perubahan itu tergantung pada pribadi dan pembacaan terhadap diri sendiri karena sejauhmanapun kita mencari ilmu seluas apapun kita mengarungi lautan ilmu kalau kita tidak mampu membaca diri sendir semua itu akan siasia, Ibdak binafkik mulailah denagan diri sendiri.
Perubahan itu akan terjadi jiha kita memulainya.

Mantap
BalasHapusLanjutkann
BalasHapusBagus
BalasHapusAwesome
BalasHapus